Inilah Alasan Kenapa Drama Korea Tidak Layak Disetarakan Dengan Sinetron di Indonesia




emperess ki

Pernah nonton drama atau film Korea? atau bahkan mungkin ada memang hobi nonton serial drama buatan negara yang dijuluki Negri Gingseng tersebut?. Jika ia pasti ada pernah diejek atau dinilai terlalu alay menyukai drama atau film yang mungkin saja dibintangi oleh aktor tampan idola anda.

Mereka yang mengejek biasanya menyebutkan jika drama buatan negara tersebut tidak jauh beda dengan sinetron-sinetron yang ada di Indonesia? lantas apa pembelaan anda? apakah anda mulai berfikir ulang dan mulai mencari-cari kemiripan drama Korea dengan sinetron Indonesia?

Tidak perlu karena memang gak ada yang mirip kok? Mau tau alasannya? Kamu bisa menggunakan alasan berikut ini yang memang sangat tidak mungkin jika Drama Korea Tidak Layak Disetarakan Dengan Sinetron di Indonesia.

1. Drama Korea Menjungjung Tinggi Nilai Leluhur Mereka
Dong yi

Meskipun mengangkat kisah-kisah kerajaan dimasa lalu pihak pembuat drama selalu mengusahakan sebisa mungkin untuk membuat kehidupan kerajaan mereka dimasa silam terlihat baik dihadapat penontonnya. Mereka mungkin menambahkan sesuatu yang fiksi namun tetap saja tidak terlalu menyimpang dari kisah sesungguhnya.

Lalu bagaimana dengan kisah sinetron di Indonesia? Apakah benar dimasa silam ada kisah harimau melawan manusia, ayam raksa-sama melawan manusia? Tau sendirikan sinetron mana aja yang menampilkan cerita menjadikan hewan yang disebut jelmaan? dan kisahnya diklaim diambil dari cerita rakyat?

2. Ending dari Pemeran Antagonis Selalu Happy Ending
school 2015

Jika kamu teliti lebih jauh maka ada akan mulai menyadari jika pemeran antagonis di drama korea akhirnya dibuat baik, mulai dari berubah, mengakui kesalahan, dienjara lalu bebas dan menjalani kehidupan sosial yang bisa. Dan bahkan kadang dibuat damai dan hidup berdampingan dengan tokoh utamanya.

Bagaimana sinetron di Indonesia, hem pasti kamu sudah taukan ending pemeran antagonisnya kebanyakan menderita, mati diberi azab dan masih banyak lagi lainnya.

3. Crita Anak Sekolah yang Benar-benar Mendidik
school 2013

Kebanyakan drama Korea yang mengangkat kisah anak sekolah memang kerap disuguhi dengan kisah yang penuh konflik. Mulai dari ada siswa didiknya yang suka mabuk, berkelahi, sering bolos, malak sesama teman kelasnya dan semacamnya. Tapi perhatikan ceritanya, pasti memperlihatkan momen perjuangan guru mereka berusaha untuk membuat anak didiknya rajin sekolah hingga lulus sekolah menengah.

Dalam alur ceritanya juga dibuat temen-temen sekelasnya saling membantu dan menyemangati agar temen mereka yang demikian ini berubah dan rajin sekolah bahkan sampek lulus bersama. Dan akhir ceritanya pun dibuat agar siswa yang memiliki kebiasaan buruk demikian ini menjadi baik.

Jika dibandingkan dengan kisah sinetron di Indonesia memang ada yang mirip sih, miripnya sama-sama pakai rok pendek aja, siapa ditiru siapa meniru tidak ada yang tau. Beda paling nyata itu ialah sinetron anak sekolahan di Indonesia hanya menceritakan saat mereka mengenakan seragam, dan bergaul dengan teman-temannya, mulai dari bikin geng, jalan, balapan liar dan semacamnya.

4. Tokoh Anak Kecil yang Tidak Menggurui Lebih Dewasa
The_Moon_Embracing_The_Sun-003

Dalam drama korea umumnya memang menyajikan cerita yang menghadirkan anak kecil, mereka membuat anak-anak kecil yang telibat dalam drama mereka dibuat terlihat lebih lucu, penurut, pintar dan jelas tidak lebih mendewasai pemeran dewa dalam ceritanya. Mereka dibuat seadanya mereka, kalaupun dibuat mempengaruhi kisah tokoh dewasanya itu hanya dibuat terharu tidak mengajari seperti kebanyakan sinetron di Indonesia. Mereka tetap memperlihatkan pembawaan anak kecil dalam kisah drama mereka tetap menjungjung kesopanan pada yang lebih dewasa. Jelasnya memperlihatkan adanya layaknya anak seumuran mereka pada umumnya tidak berlebihan.

Masaksih anak kecil pintarnya sudah selangit dan mampu menggurui tokoh dewasa, mungkin ini memang sesuatu yang luar bisa untuk menggarbarkan anak Indonesia yang cerdas tapi tentunya ini tampak terlihat berlebihan. Hingga seolah-olah yang lebih kecil menggurui yang lebih dewasa. Kalau boleh kasar bisa dikatakan terlihat ‘kurang sopan’

Mungkin para pembaca punya perbandingan lain? Yuk berbagi bisa ditulis di kolom komentar. Nanti kita buat artikel part II. 🙂






Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *